Sabtu, 22 Desember 2012

Kota tua SURABAYA

masih di sekitaran surabaya....
tak perlu jalan-jalan ke luar kota sebenernya apabila kepingin ngebacpaker,cukup di kota sendiri sebenernya dan itupun sangat mengasik kan ternyata.setelah jalan jalan di Mseum House of Sampoerna,tugu pahlawan,makam belanda di peneleh,masih ada satu lagi tujuan wisata sejarah yang ada di surabaya...yaaaaah..jalan-jalan di daerah kota tua surabaya.tempat nya tepat di tengah kota surabaya,cukup 15 menit dari tugu pahlawan.dan ini kali pertama saya jalan kaki keliling-keliling kota lama surabaya.berbekal dengan sedikit sejarah mengenai jaman perjuangan kemerdekaan menambah semangat saya untuk berkeliling di sini.
Kita bisa menemukan banyak bangunan peninggalan kolonial Belanda masih tegak berdiri di area Jembatan Merah ataupun di Jalan Kembang Jepun. Bangunan-bangunan tersebut rata-rata dibangun pada akhir abad 19 atau awal abad 20 dengan menggunakan arsitektur bangunan khas Eropa, cantik dan benar-benar klasik.

masih ingat kan sejarah tentang tewas nya jendral dari inggris di surabaya?!!!jedral A.W.S Mallaby yang tewas terbunuh di daerah jembatan merah yang menjadi salah satu alasan terbesar kenapa inggris menmbombardir kota surabaya. dan di situlah awal dari perjalanan saya kali ini.apabila anda datang dari luar kota,anda bisa langsung naik bus dari terminal purabaya menuju jurusan jembatan merah dengan tarif sekitar Rp.5000,-.
di daerah ini lah tempat dimana terdapat banyak gedung-gedung bersejarah peninggalan jaman kolonial belanda yang sekarang sudah beralih fungsi menjadi hotel-hotel dan perkantoran.banyak gedung-gedung tinggi dengan bangunan khas arsitektur jaman kolonial belanda dengan seni tinggi masih berdiri kokoh bersanding dengan gedung-gedung modern.gang-gang yang masih banyak rumah-rumah bergaya belanda yang masih berpenghuni maupun tidak.

Hotel IBIS


gedung samping polrestabes surabaya
kesan kusam dan tak terawat sedikit terlihat di sekitar gang-gang yang saya lewati,padahal apabila pemerintah kota lebih memperhatikan,tak khayal dareah kota tua ini akan menjadi salah satu destinasi wisata yang akan banyak menarik wisatawan lokal maupun internasional,mengingat sejarah panjang perjuangan kota surabaya.
di setiap gedung gedung bersejarah ini,terdapat prasasti yang menceritakan sejarah gedung tersebut,keterangan mengenai berfungsi sebagai apa pada saat jaman kolonial belanda.
"ARSITEKTUR BANGUNAN KOLONIAL BELANDA,SEBAGAI PENUNJANG KAWASAN KOTA LAMA"




 
lampu depan Hotel Majapahit yang dulunya bernama hotel Orange.







Jumat, 21 Desember 2012

Mlampah-mlampah ten G.sumbing (3371m dpl)===> part loro (2)



Di  hari dan tanggal yang sama Jum’at 30 Des 2012,kutatap di depan mata sebuah bongkahan ciptaan tuhan yang  jatuh ke bumi.amat begitu indah dengan sejuta kisah dan kesahajaan tentang nya.

Sore di desa kali angkrik tempat start pendakian menuju gunung sumbing,cuaca yang sedikit berkabut,entah itu mendung atau asap yang di timbulkan dari tungku perapian penduduk menyambut kami,dengan suhu yang cukup dingin kami mulai menurunkan barang-barang kami satu persatu yang ada di atas mobil,sapaan yang hangat dari warga sekitar seolah menjadi penghangat alami bagi kami,sempat kami menikmati jajanan khas entah apa naman nya yang di beli kang udin.rasanya sangat lezat,dan sedikit bisa mengganjal isi perut kami yang sudah mulai berdendang.
 
perlahan namun pasti kami mulai menapak kan kaki menyusuri  sela-sela gang perkampungan penduduk yang cukup rapi,dengan jalanan bersusun batu tanpa aspal.dan lagi-lagi setiap orang pun menyapa kami dengan senyum santun dan hangat seolah-olah kami saudara mereka yang datang dari jauh dan lama tak bertemu.”mongo pinarak mas” yang artinya silahkan mampir mas, hampir terucap pada setiap warga yang kami temui.di sini sebelum malakukan pendakian ke puncak gunung sumbing kita diwajib kan meminta ijin/melapor dulu kepada kepala dusun karna memang tidak ada pos pendakian yang benar-benar di peruntuk kan untuk para pendaki,ya maklum,karna jalur kaliangkrik bukan lah jalur resmi para pendaki menuju puncak G.Sumbing,dan bang udin lah yang menjadi perwakilan kami untuk ijin ke pak dusun.setelah hampir berjalan cukup jauh,salah satu warga menanyakan apakah kami sudah membawa Kelapa tua dan gula merah..”sampean nopo sampun mbeto gulo jowo ro kambil??”(anda apa sudah membawa gula jawa &kelapa).dalam hati pun bertanya untuk apa gula jawa dan kelapa??? . “dereng bu” (belum bu) sahut bang udin,dan sesegera mungkin ibu-ibu tadi memberikan gula jawa dan kelapa kepada bang udin,sempat saya tanyakan untuk apa kok kita harus membawa ke dua barang tadi kepada mbah patuk salah satu anggota team yang notabenya juga orang sekitar situ ”di gawe opo mbah kui??”(di pakai apa mbah itu?) sang mbah pun langsung menyaut “di pangan ben kuat”(di makan biar kuat).jawaban yang logis tanpa ada unsur-unsur mitos,tapi ya sudah lah..#capek  mikir.
 
setelah hampir setengah  jam kami berjalan menapaki jalan berundak di samping-samping rumah penduduk,tatapan kami pun lepas melihat luas perkebunan penduduk yang tertata rapi dengan segala aktivitas nya,jalanan berundak yang tersusun rapi pun berganti dengan jalanan tanah liat yang belum kering oleh hujan yang memang beberapa hari mengguyur daerah ini.ladang sawi dan beberapa tanaman yang belum terbentuk entah tanaman apa itu,suara gemuruh petir mengiringi perjalanan kami,dengan para petani yang sedang menggarap ladang mereka.”bade ten kawah mas??”(mau ke kawah mas) tanya salah satu petani.tanpa di kordinasi pun kami menjawab pertanyaan itu secara bersamaan ”enggeh pak”(iya pak).tanpa di duga,cuaca yang awal nya gerimis yang kita kira hanyalah embun,berubah menjadi hujan yang cukup lebat.tanpa pikir panjang pun kami segera menggunakan mantel yang memang menjadi perlengkapan primer yang harus kami bawa di saat melakukan pendakian saat musim hujan”SEDIA MANTEL SEBELUM HUJAN”.

berjalan dengan guyuran air hujan yang menambah dingin udara sore itu  dan tanah lumpur yang licin yang lagi-lagi mengharuskan kami untuk berjalan dengan konsentrasi tingkat tinggi jika tak ingin jatuh terjungkal dan siap-siap di tertawakan.Setelah hampir satu jam lebih kami pun sampai di pos 1,sebuah tanah lapang dengan pohon-pohon besar yang mengitari nya,hujan yang kian lebat mengharus kan kami untuk membuka flysheet untuk berteduh sembari menunggu anggota team yang lain.jauh mata memandang tampak sangat indah pemandangan kota magelang dari ketinggian dengan di buntal garis-garis awan mendung,bau tanah yang basah seolah-olah menjadi obat terapi alami yang membuat otak menjadi segar.setelah flysheet berdiri kami memutus kan untuk menyiapkan makan sore guna untuk mengisi tenaga dan stamina setelah berhujan-hujan ria, roti kering,sub bakso dengan mie ditemani beberapa gelas kopi dan rokok pun kami menikmati hujan sore itu.canda tawa menjadi obat kelelahan kami,tertawa lepas dengan senda gurau beda logat seolah-olah menjadi penghangat alami kami dan saling beradaptasi satu sama lain. yaa maklum,beberapa dari kita memang baru pertama kali bertemu.di temani suara khas bang iwan fals yang terlantun sayup-sayup dari HP saya
”nooonaaa…maaf kan aku..oooo..noooonaaa..peluk lah aku..
begitu besar nya cintamu paaada ku….”
lagu yang akan terkenang selama nya karna telah memberikan saya semangat baru ketika terseok-seok di jalur pasir menuju puncak MAHAMERU beberapa bulan yang lalu.
 Tak terasa waktu pun semakin sore dan hampir malam.hujan yang tadi nya turun deras,berhenti dan berganti dengan gemricik gerimis yang seolah-olah mengisyarat kan kita harus segera melanjutkan perjalanan.Setelah acara makan-makan selesai,kami pun segera bergegas untuk merapikan semua,dan secepat mungkin melanjutkan perjalanan,sampah menjadi suatu yang penting dan harus diamankan untuk di bawa turun kembali,karna kami tak ingin mengotori hutan yang asri dengan sampah.

suasana menjadi penuh hikmat ketika doa mulai terpanjatkan,dengan dipimpin anggto termuda dari kami..si khoirul,ya..karna hanya khoirul yang bernyali untuk memimpin doa sore itu sebelum melanjut kan perjalanan. Memohon agar perjalanan kami dilindungi oleh tuhan dan lancar tak kurang suatu apapun.
Jalan yang awal nya ladang-ladang penduduk,kini berganti dengan hujan tropis yang lebat dengan sejuta misteri,jalanan yang lumayan landai menjadikan ini sebagai pemanasan,berjalan dengan di iringi gemricik air yang jatuh dari dahan-dahan pepohonan tinggi solah-olah menjadi suara-suara alunan musik alam yang mengalun begitu merdu nya.
Sekitar satu jam lebih kami berjalan,sayup-sayup terdengar suara adzan magrib yang menembus rimbun nya pepohonan yang lebat dan mengharuskan kami untuk berhenti menunggu adzan magrib yang berkumandang.bashor yang terlihat begitu lelah di antara yang lain membuat saya untuk sedikit membangkit kan suasana.”sor yopo??lanjut ta iki??”(sor gimana lanjut kan) tanya saya,”Lanjut lah cok” kata-kata yang seolah olah menjadikan suara riuh dengan sambutan tawa dari teman-teman yang lain..yaa..memang kata-kata cok tak pernah lepas dari percakapan kami”CAK COK KATA-KATA KOTA KITA,SURABAYA” haha..(kata-kata khas Surabaya yang harus di lestarikan).
tak lama beristirahat,dengan  beberapa batang rokok yang sudah menemani kita.kami pun melanjut kan perjalanan.”kurang berapa menit lagi kang samapai pos 2” tanya salah satu teman,”kurang satu sengengah jam lagi lah kalo jalan kita seperti tadi”sahut kang udin.’head lamp,senter ayo di siap kan,kita lanjut jalan dan istirahat di pos 2,di situ ada aliran sungai,kita bisa mandi-mandi”ucap kang udin dan beberapa teman dari magelang. ”gendeng ta!!!bagi yang bernyali silahkan mandi” celetuk salah seorang teman yang mulai kedinginan.ya..memang suhu udara saat itu sekitar 18°c.
Berjalan di tengah gelap nya hutan dan hanya diterangi lampu head lamp dan senter membuat kami lebih berhati-hati dan tak banyak tingkah.
setelah berjalan tertatih-tatih selama lebih satu jam kami pun akhir nya sampai di pos 2,pinggiran jurang yang samping nya aliran air dengan tanah lapang yang cukup hanya untuk beberapa tenda,mungkin hanya 4 sampai 5 tenda kami pun istirahat dan mulai untuk mendirikan camp,namun di sini mulai sedikit ada perselisihan diantara kami,ada beberapa orang teman yang menyaran kan untuk mendirikan tenda di atas lagi ,yang alasan nya agar lebih hemat waktu,dan bisa melihat sunrise. ya..karna mereka merencanakan turun dari G.sumbing langsung lanjut ke G.sindoro.tak banyak percakapan di sini karna suhu yang dingin dan faktor lelah setelah berjalan cukup jauh,membuat kami malas untuk bercanda dan banyak cakap.setelah beristirahat sejenak melepas lelah,mengganjal perut yang mulai keroncongan dengan roti akhirnya kami pun sepakat untuk mendirikan camp di sedikit atas dari pos 2.”di atas yo ada tempat buat nge camp kok,Cuma tiga puluh menit dari sini,nanti bisa liat sunrise disana”ucap  bang udin yang sedikit mencairkan suasana. Dan akhir nya kami pun sepakat untuk membatal kan recana yang awal nya kita akan camp di pos 2 untuk di ganti di atas sedikit dari pos 2.”Oke ayo ambil air secukup nya untuk masak dan minum di atas,nanti di sepanjang jalur juga ada aliran sungai kok” ucap bang udin lagi.
tanpa pikir panjang satu persatu botol kosong pun terisi penuh untuk bekal kami memasak dan minum nanti nya.dan disini lah mulai tercium aroma tragedi pengairan.hehe -__-“
Jalanan yang mulai menankjak curam,melikuk-likut dengan samping-samping jurang yang nampak siluet seolah-olah mengisyarat kan kami harus lebih ekstra hati-hati lagi.tak seberapa jauh berjalan,kaki saya pun sempat kram,ya..mungkin karna terlalu lama beristrahat di pos 2 dan langsung jalan lagi tanpa pemanasan.
setelah istirahat sejenak dengan megoleskan cairan minyak yang sudah saya bawa dari rumah,sedikit demi sedikit kaki saya pun mulai agak enakan.” Wes..piye,wes enakan opo gurung” tanya kang yono. “ Wes kang..ayo cap cusss” jawab saya spontan.
angin yang bertiup kencang,dengan gemercik embun yang menyapu tubuh kami setia menemani perjalanan menuju tempat untuk mendirikan camp.setelah hampir setengah jam berjalan dan meninggal kan rimbun nya hutan.saya pun menoleh ke arah belakang”subhanallah..indah lampu gemerlap kota-kota yang ada di bawah terlihat seperti butiran-butiran mutiara yang terselimut tipis kabut dengan baground keangkuhan merapi dan kegagahan Merbabu yang nampak malu-malu tertutup oleh kabut yang datang silih berganti.
“Wes ayo ndang di tok ke tendoe” tak terasa kami pun sampai juga di tempat yang akan kita jadikan tempat untuk bermalam. Terpaan angin yang cukup kencang dan gemricik air entah hujan atau embun kian deras menerpa tubuh kami yang muali terlihat lelah.satu persatu kami pun mulai mengeluarkan berbagai macam perlengkapan untuk tidur.” Wah..ini hanya cukup untuk dua tenda saja kayak nya” ucap salah satu teman. “lha terus piye iki??” sahut yang lain “ coba cari tempat yang sekiranya agak datar dan bisa muat satu tenda lagi “ intruksi kang udin.
dan segera bergegas lah kami untuk melihat temat mana yang cocok untuk sat tenda lagi. “wah kayak nya gak ada iki kang,terlalu sempit kalo untuk buat satu tenda lagi” sambil memberitahuan tempat yang kami maksud.
Dan tanpa banyak bincang-bincang kang udin pun senantiasa membuat kan tempat untuk mendirikan satu tenda lagi,ya dengan cara meratakan tanah yang sebetul nya sudah sedikit rata.tak butuh waktu yang lama akhir nya pun jadi juga tempat yang akan di jadikan tempat tidur kami.” Wes kene,cukup kan gawe tendo mu kui?!!lumayang iki” ucap kang udin dan mbah patuk”. Setelah dirasa cukup saya pun mulai mengeluarkan tenda yang akan di jadikan tempat peraduan.

“oke-oke..wes cukup iki kang” ucap saya dan fery. Setelah dua tenda terbuka dan siap untuk di jadikan tempat istirahat,saya pun juga bergegas untuk mendirikan satu tenda lagi yang tak jauh dari dua tenda lain nya. Setelah tenda berdiri di tempat yang cukup nyaman dan sedikit aman dari terpaan angin.
setelah semua sudah terpasang dengan agak rapi saya dan fery pun keluar tenda menuju ke tenda lain yang untuk bercengkrama dan masak-masak untuk membuat kopi.bashor dan yang lain sudah mempersiap kan air untuk di jadikan kopi ternyata.gurauan-gurauan yang nyleneh pun terlontar seolah-olah memecah kan dingin nya malam dengan genmercik air hujan yang tak kunjung reda, memberikan kehangatan bagi kami.
Tak terasa malam semakin larut dan sepertinya tubuh ini sudah tak bisa lagi di ajak kompromi walaupun suasana konyol dengan segala guyonan nya masih mendominasi percakapan kami malam itu.”wes kang wayahe turu iki,sesuk esuk ben iso tangi isuk-isuk”(udah kang,waktunya tidur,besok masuk pagi biar bisa un pagi-pagi) ucap saya. “jam piro iki,kok wes arep turu”(jam berapa ini kok udah mau tidur) terdengar dari dalam tenda kang udin. “wes bengi iki jeh.wayahe ngelurus no sikil”(sudah malam,waktunya ngelurusin kaki ini) ucap saya. “yo wes nek ngunu,ndang turu,sesok di lanjut” (ya udah buruan tidur beok dilanjut) ucap mbah patuk.
buka sleeping,buang rokok kancing tenda..ehh..ternyata tak lama berselang si fery pun juga ikut kembali ke tenda yang memang kami tempati.yang awal tujuan saya untuk tidur,semua pun berganti dengan percakapan ringan dan guyonan mengenang perjalanan kita selama ini,di tengah-tengah percakapan kami pun kembali teringat dengan sahabat kita yang satu lagi..yaitu Rooky yang tidak ikut dalam perjalanan ini.
“It must have been love..
but it’s over now..
it must have been good..
but I lose it someow
It must have been love..
but it’s over now..
from the moment we thouched till the time had run out..

"IT MUST HAVE BEEN LOVE” dari Roxxete pun terdengar sayup-sayup dari HP saya malam itu,menemani percakapan saya dengan si fery seolah olah memecahkan keheningan malam itu.dan di akhiri dengan lagu bang iwan yang seolah-olah menghipnotis kami sampai ke negri mimpi..
Denting piano kala jemari menari
Nada merambat pelan di kesunyian malam
Saat datang rintik hujan bersama sebuah bayang
Yang pernah terlupakan

Hati kecil berbisik untuk kembali padanya
Seribu kata menggoda seribu sesal di depan mata
Seperti menjelma waktu aku tertawa
Kala memberimu dosa
Da..ra           O….maafkanlah
Da..ra    O….maafkanlah
Rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini
Pernah ku mencoba tuk sembunyi
Namun senyum mu tetap mengikuti….


 





continue.....

Sabtu, 08 Desember 2012

Mlampah-mlampah ten G.sumbing (3371m dpl)===> part siji(1)



Gunung sumbing merupakan gunung tertinggi ke 3 di pulau jawa & tertinggi ke dua di jawa tengah setelah gunung slamet,gunung sumbing adalah gunng yang puncak nya memiliki kawah yang masih aktif,dengan ketinggian 3371 mdpl gunung sumbing memberikan tantangan yang sangat menarik  bagi para pendaki,batuan terjal,tebing-tebing curam,savannah yang luas di antara tebing-tebing curam,angin yang kencang memberikan sensasi yang berbeda apabila mendaki gunung ini.
sebuah perjalanan yang memberikan kesan istimewa di hati,pejalanan penuh liku batu terjal,naik,turun,melipir,prosotan,jungkelitan dimana stamina harus memang benar-benar sehat jasmani & rohani(hehe)..sebuah perjalanan panjanggggg 3 hari 2 malam,perjalanan yang membuat hampir putus asa, dan dalam hati pun sempat bertanya-tanya sampai kapan akan berakhir.
Ada beberapa jalur apabila kita ingin mendaki ke puncak  gunung ini.jalur resmi nya berada di desa Garung-Wonosobo & jalur Cepit-Temanggung.namun ada juga jalur lain yang mungkin hanya sedikit orang yang biasa melewati jalur ini,yaitu jalur kali Angkrik-magelang.45 menit dari terminal Tidar kota magelang apabila kita membawa mobil pribadi,namun saya tidak tau rute nya gimana kalo naik angkutan umum,karna kebetulan saya dan rombongan menyewa mobil pick up untuk menuju kesana.sebuah perjalanan yang akan tersimpan rapi dengan sejuta kenangan dan berbagai tragedi,di awali tragedi pengairan & di tutup oleh Curcolan si mbah tentang SUSU JAHE.

Kamis 29 nov 2012,
masih  di kota tercinta Surabaya tepat nya di Medaeng City(kota perbatasan),tempat berkumpul arek-arek sekalian reuni para orang2 konyol yang kala itu jalan bareng di G.merbabu dengan sejuta aksi nyleneh nya..bashor,Rokkie,fery,dan tentunya saya.
hari sudah mulai sore di tandai dengan gemricik hujan yang membasahi jalanan aspal yang sedikit tergenang air,tapi bukan banjir.saya menunggu kedatangan sobat saya dari kota pisang-Lumajang yang sedang menuntut ilmu di kota dingin Malang,yang kali ini menjadi salah satu anggota team yang akan ikut melakukan pendakian menuju gunung Sumbing.setelah lama menunggu akhir nya sampai juga si Fery ke rumah saya,ya walau pun agak sedikit kemalaman di karenakan di kota malang sedang datang hujan gede.kita memang sudah janjian untuk berkumpul di rumah saya,yaaa..!!karna akses menuju ke Magelang memang lewat dari Terminal Purabaya yang sangat berdekatan dengan rumah saya.karna semua sudah terencana maka tanpa harus banyak mempersiap kan sesuatu saya & fery langsung berbelanja kebutuhan logistik yang memang kita sepakati ntuk berbelanja pas hari keberangkatan,Indomie,sarden & kopi adalah menu andalan kita makanan instant yang tak menggugah selera.setelah semua barang terbelanjakan,tak terasa dua sejoli si Bashor & rookie sudah menunggu di teras rumah dengan segala tingkah konyol nya..yaa..maklum karna mereka sudah lama tak bertemu.setelah bercanda dan mengisi perut yang mulai keroncongan kita pun mulai packing kebutuhan dan recheck semua peralatan.karna si Rookie sedang berhalangan untuk ikut,maka dialah harapan satu-satu nya untuk mengantar kan kami bertiga menuju terminal Purabaya.
Sekitar pukul 22.00 kami berangkat menuju terminal & di sana sudah menunggu dua orang lagi yang ikut bergabung dalam perjalanan ini,bang hendrik & Anwar.
Dari surabaya menuju magelang kita memutus kan untuk naik bus ekonomi yang mengharus kan transit dulu di jogjakarta,bus  yang hampir terasa seperti bus Eksekutif Bus SUMBER SELAMET reingkarnasi dari Bus SUMBER KENCONO yang legendaris.perjalanan memakan waktu kurang lebih 7-8 jam dengan tarif Rp 37.000,-,namun apabila kita mempunyai kartu langganan kita akan dapat diskon Rp 3.000,- (sesuai ketentuan yang berlaku) . keadaan malam dengan kondisi jalan yang sepi sanngat cocok bagi siapa saja yang mempunyai nyali tinggi untuk menguji adrenalin ketika menaiki Bus ini,jalan aspal dan berbatu dilahap habis oleh nya.salip kanan-salip kiri banting stir gas pol-rem pol..membuat perut tersa terkocok habis-habisan.tak banyak yang bisa di ceritakan di sini karna saya putus kan untuk berdoa dan tidur agar perjalanan ini di lindungi selamat sampai tujuan.

Jum’at 30 Des 2012,

ngeTEH dulu gan

Tepat pukul 05.30 kami sampai di Terminal Giwangan kota jogakarta untuk entah kesekian berapa kali nya,suasana yang masih cukup sepi dengan segala aktivitas terminal,dan beberapa warung nasi yang belum buka.ramah sapaan para pedagang yang menawar kan dagangan nya,sangat berbeda jauh dengan kondisi di terminal Pobolinggo.suasana sangat bersahabat sopan santun kami dapat kan di sini,pantas saja wisatawan yang datang ke jogja akan merasa sangat berat untuk meninggal kan kota ini.
setelah beristirahat sejenak di temani dengan teh yang hangat yang kami beli.setelah beberapa menit beristirahat kami pun langsung bergegas menuju ke magelang.
 

Dari jogja menuju magelang memakan waktu kurang lebih 1.5 jam,dengan menggunakan Bus dengan tarif yang relatif murah sekitar Rp 9.000,-.tak kalah menegangkan nya dengan perjalanan menggunakan Bus SUMBER SELAMAT,bus yang saya tunmpangi kali ini juga sedikit ugal-ugalan,jalanan halus rata di lahap tanpa ampun,tikungan tajam pun tancap gas,keadaan penuh sesak  para penumpang bukan alasan untuk sedikit memperlambat laju bus.setelah berdesak-desakan selama hampir lebih satu jam,kami pun sampai di terminal Tidar kota magelang,suasana hilir mudik para penumpang terlihat sepi,ya maklum karna terminal ini relatif kecil dan hanya sebagai tempat persinggahan para penupang.di sini kita sempat kan untuk sarapan karna cacing-cacing dalam perut mulai berdemo dan Berorasi.setelah semua terselesaikan kami berempat pun pergi meninggal kan terminal dan bergegas menuju toko Kang Saefudin.dari terminal menuju ke toko tidak lah jauh,kita hanya cukup berjalan beberapa ratus meter saja .
Sesampai nya di toko kita pun di sambut kehatan sang empu nya toko..Kang Udin,jabat erat kehangatan sahabat sangat terasa di sini,setelah lama tak bertemu kita banyak cerita2 tentang kekonyolan kita terutama si Bashor,karna dia lah yang paling ekstrim tingkah laku nya.stelah bercengkrama di area toko kita pun di persilah kan masuk untuk beristirahat dan membersih kan badan ngopi-ngopi,
Toko kang Udin
oh iya..Toko kang udin Bernama MAGELANG ADVENTURE outdorr equipment & rental
Jln. Jend Urip Sumoharjo - Canguk - Magelang
(belakang pos polisi/depan trafic light pertigaan canguk arah salatiga/gunung merbabu)
telp :085 643 677 737.
Jadi bagi siapa saja yang ingin mendaki Gunung-gunung di daerah magelang,silah kan saja mampir ke toko kang udin untuk menyewa segala peralatan standart pendakian denagn harga bersahabat dan atau hanya sekedar mampir dan berbelanja alat-alat pendakian dan kaos-kaos sovenir untuk oleh-oleh.(#sedikit promosi kawan).
setelah selesai beristirahat dan melaksanakan kewajiban sholat jum’at sembari menunggu anggota team yang lain kita pun cuci mata di depan toko kang udin,yang memang tempat nya sangat strategis,tempat lalu lalang orang yang akan menuju kota magelang.
dan tak lama kemudian datang tiga teman lagi yang akan melakukan pendakian ke G.sumbing,mbah pathox kang Yono & Mas Kamplik.

setelah semua anggota berkumpul dan mulai packing-packing barang bawaan,kami pun segera beranjak dari toko kang udin menuju perjalanan yang sesungguh nya…SUMBING MOUNTAIN(3371m dpl)..Yeaahhhhhh let’s gooo konco-konco…
dengan menggunakan mobil Pick up sewaan bang udin,kami perlahan meninggal kan toko kang udin,perjalanan yang mengingat kan saat-saat di mana kita sehabis turun dari gunung Merbabu..yaa..nge Gandol broo..NgeBONEK..hehe

perlahan namun pasti  perjalanan melewati alun-alun kota Magelang yang bersih dan rapi,jalanan yang naik turun menambah sensasi di hati,dan sedikit hujan menemani perjalanan kami.bebas lepas tanpa ada beban yang mungkin ada dalam pikiran kami.
desa Kaliangkrik
dengan canda tawa berbeda logat,di suguhi dengan panorama khas dataran tinggi,perkebunan penduduk dan tawa canda anak-anak pedesaan dengan permainan sederhana nya menambah nikmat perjalanan kami. Setelah satu jam perjalanan yang penuh denagan kenangan,kami pun sampai di desa mangli kecamatan kali angkrik.




continue...

Kamis, 06 Desember 2012

kuburan Belanda di MAKAM TUA PENELEH




Siang itu udara terasa sangat terik,ramai orang dengan segala aktvitas nya sudah mulai di sana-sini.kali ini saya menyempat kan jalan-jalan ke salah satu wisata kota tua di surabaya tepat nya di makam tua peninggalan belanda yang terletak di daerah Peneleh di daerah tengah kota surabaya,atau yang lebih di kenal dengan Makam tua Peneleh.dari nama nya saja mungkin sudah terlihat agak menyeramkan”makam tua Peneleh”.
hanya butuh kurang lebih 1 jam saja jika ingin menuju ke makam tua peninggalan belanda.jalanan yang macet ,debu dan polusi disana sini mengiringi perjalanan saya,tak seberapa jauh tempat ini dari tempat tinggal saya di Medaeng lima menit dari terminal purabaya.
Makam tua peneleh berada di daerah Peneleh-surabaya.tepat di belakang puskesmas Peneleh.
 PENELEH merupakan salah satu kawasan asli Kota Surabaya. Nama Peneleh lahir di zaman Kerajaan Singosari. Asal kata “peneleh” berasal dari lokasi ini yang dahulunya merupakan tempat bersemayamnya pangeran pilihan (pinilih), putra Wisnu Wardhana yang memiliki pangkat setara dengan bupati. Pangeran tersebut kemudian diangkat menjadi pemimpin di daerah yang berada antara Sungai Pegirian dan Kalimas ini. Kawasan Peneleh sendiri merupakan salah satu bagian sejarah Kota Surabaya karena di dalamnya memiliki beberapa peninggalan bersejarah diantaranya masjid kuno Peneleh, rumah HOS Cokroaminoto (tempat proklamator Ir. Soekarno tinggal pada saat beliau bersekolah), perkampungan tua, Pasar Peneleh (salah satu tempat di Jawa dimana saat itu buah anggur dapat dibeli) serta Makam Peneleh yang merupakan salah satu makam tertua di Jawa Timur.
Komplek makam tua peneleh merupakan komplek makam tua peninggalan belanda yang ada sejak tahun 1814.komplek pemakaman yang di peruntuk kan untuk warga belanda yang tinggal di surabaya pada jaman penjajahan. Meskipun kondisinya saat ini sangat kumuh dan memprihatinkan, namun masih menyisakan sisa-sisa eksotisme masa lalu. Banyak hal yang bisa digali di dalamnya. Detail ornamen berlanggam gothic dan doric, patung-patung berkarakter Romawi (meskipun sebagian besar sudah tidak dalam kondisi utuh) hanyalah sebagian kecil dari keindahan masa lalu yang masih bisa ditelusuri.kondisi makam yang sebetul nya tertata rapi menjadi kurang enak di pandang ketika kita mulai melangkah masuk di dalam nya,jemuran-jemuran pakaian warga sekitar yang di jemur di area pemakaman membuat rasa kurang nyaman.masuk di area pemakaman ini sebenarnya tidak di pungut biaya,kita hanya membayar parkir kendaraan bermotor saja.akan tetapi kita akan di tarik biaya restribusi oleh sang penjaga makam,dengan tarisf yang tidak di tentukan,biasa nya sih para wisatawan memberi Rp 5.000,-  rupiah untuk biaya perawatan makam.
Saat masuk lebih dalam ke area pemakaman ini,suasana pun sangat berbeda.kita akan terbawa suasana dan seolah-olah kita  hidup di jaman penjajahan belanda .akan terbayang kan,betapa banyak nya orang belanda yang tinggal di surabaya,susunan makam yang tertata rapi dengan nomor seri disetiap nisan meninggal kan jejak sejarah akan kemewahan area komplek pemakaman ini di jaman penjajahan.di area pemakaman ini pula di makam kan sang arsitek jembatan sungai porong Ibrahim Simon Heels Berg.
namun kebanyakan jasad-jasad yang terkubur disini sudah di pindah kan ke negara asal nya oleh sang ahli waris,jadi hanya tinggal batu nisan dan makam yang tanpa jasad saja.

anak-anak sekitar yang sedang bermain di komlek pemakaman
Sebetul nya apabila warga sekitar,Pemkot,dinas pariwisata & instansi yang terkait lebih memperhatikan dan serius dalam merawat dan menjaga area pemakaman ini,tidak lah menjadi hal yang mustahil apabila komlek pemakaman ini akan menjadi salah satu destinasi wisata kota tua surabaya yang akan ramai di kunjungi oleh para wisatawan. Sisa-sisa makam dan prasasti yang berserakan, lingkungan kumuh merupakan sedikit gambaran kondisi makam saat ini. Memang, kompleks ini merupakan makam orang-orang Belanda, namun apa yang ada di dalamnya merupakan sebuah bukti yang bisa menjadi benang merah sejarah keberadaan Kota Surabaya,kota pahlawan.


 

Salam Lestari.